Dampak AI bagi Gen Z, Ini Pandangan Putri Aurelia Sigar
TERBERITA.COM, Manado – Generasi Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1997-2012, yang kini hidup mengedepankan tren dan bergantung pada digitalisasi.
Seperti diketahui, masifnya digitalisasi serta munculnya Artificial Inteligence (AI) berdampak pada kebiasaan Gen Z yang sangat sering memanfaatkannya dalam banyak hal.
Tak hanya itu, generasi ini semakin candu pada media sosial dan memiliki mental yang takut ketinggalan tren.
Seperti diungkapkan Putri Aurelia Sigar.
Menurutnya, penggunaan AI di kalangan Gen Z sejatinya merupakan hal positif, apalagi jika dipakai bekerja, belajar, referensi, mencari hal baru, dan banyak lagi.
“Meski begitu harus ada batas, jangan semua hal diserahkan ke AI, karena bakal memicu hilangnya cara berpikir,” kata Aurel.
“Jadi intinya AI oke, asalkan tetap dipakai sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan kita,” tambahnya.
Masalah lain muncul pada pola hidup Gen Z yang kini takut ketinggalan tren dan semakin candu media sosial.
Aurel berpendapat hal itu terjadi karena era sekarang semua hal terlihat cepat dan mudah dibandingkan.
Menurutnya, fenomena tersebut memicu bangkitnya rasa takut akan tertinggal jika tidak mengikuti arus perkembangan.
“Tapi sebenarnya kalau dipikir lagi, tren sangat cepat berubah. Jika terus dikejar, maka kita akan lelah dengan sendirinya,” tukas gadis kelahiran Langowan, 7 November 2006 ini.
“Media sosial membuat kita sering membandingkan diri, padahal yang ditampilkan orang lain belum tentu real. Maka lebih baik fokus ke kebutuhan sendiri,” imbuhnya.
Bertalian dengan kehidupan
Lebih lanjut dia menjelaskan, banyak konten di media sosial makin bersifat personal serta bertalian dengan keseharian Gen Z.
Pemilik akun Instagram @aurells_05 ini menuturkan, ada banyak sekali konten tentang overthinking, insecure, quarter-life crisis, atau finansial, yang memang dialami anak muda zaman sekarang.
“Ada positifnya, kita jadi merasa tidak sendirian. Tapi jangan sampai “relate” itu jadi alasan membenarkan kebiasaan buruk,” ujarnya.
Gadis yang hobi mencoba hal baru ini menyebutkan, seseorang perlu sadar akan tujuan menggunakan platform digital.
“Mau pakai platform digital untuk belajar? Silakan. Untuk hiburan? Boleh. Namun harus membatasi waktu dan hal yang dikonsumsi,” tuturnya.
“Jangan gampang percaya informasi begitu saja, lakukan cross-check sumber, tidak bole asal repost, apalagi hal-hal sensitif,” ucapnya.
“Digitalisasi hanya bagian dari hidup, bukan keseluruhan. Maka kita harus tetap punya kehidupan nyata yang berjalan seimbang,” tandas Aurel. (Mhr)
