Pendapat Early Tuhatelu soal Bahaya Rokok dan Miras serta Peran Keluarga

TERBERITA.COM, Manado – Kebiasaan merokok dan konsumsi minuman keras (miras) jelas memberi dampak tidak baik bagi kesehatan semua orang.

Fakta ini dibuktikan dengan banyaknya penelitian kesehatan yang secara gamblang menjelaskan soal efek samping rokok dan miras bagi tubuh manusia.

Ironisnya kebiasaan ini paling sering dilakukan banyak anak muda atau Generasi Z yang berakibat pada kecanduan.

Rokok dan miras menjadi pilihan utama ketika seseorang mengalami stres atau banyak tekanan baik dari keluarga maupun lingkungan sosial.

“Bahaya merokok dan miras bukan sebatas masalah kesehatan jangka panjang seperti jantung atau paru-paru, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas hidup dan potensi masa depan,” kata Early Tuhatelu.

Gadis kelahiran Kotamobagu, 28 Oktober 2006 ini menjelaskan, tren rokok dan miras terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

“Zaman sekarang, kebiasaan tersebut seolah menjadi standar di lingkungan pergaulan,” tukasnya.

“Apalagi banyak orang FOMO, awalnya coba-coba tapi berujung pada kecanduan,” ujar gadis yang akrab disapa Ily ini.

Menurut dia, Gen Z sering disebut sebagai generasi paling stres akibat tekanan dari lingkungan, ekonomi, keluarga dan banyak hal lain.

“Akhirnya rokok dan miras menjadi tempat pelarian untuk merasa tenang,” ungkapnya.

“Jangan biarkan masa depanmu menguap bersama asap rokok dan tenggelam dalam botol miras, kamu terlalu berharga untuk dihancurkan oleh kebiasaan yang cuma bikin kecanduan,” tuturnya.

Baginya “Real Flex” bukan tentang siapa paling jago minum atau merokok, tapi siapa yang punya tubuh sehat, dan memiliki pikiran jernih.

“Jangan tukar masa depan dengan validasi singkat yang merusak, pedulilah pada kesehatan karena itu adalah privilege,” sambung Ily.

Pemilik akun Instagram ilytuhatelu_ ini berpendapat, peran keluarga sangat penting sebagai support system demi memutus rantai kecanduan rokok miras.

“Karena keluarga merupakan benteng pertama, maka sudah seharusnya keluarga menjalankan peran sebenarnya,” jelasnya.

“Jika keluarga mampu memberi validasi emosional artinya anak merasa aman bercerita tentang stres atau kegagalannya tanpa dihakimi, dengan begitu keinginan mencari pelarian di luar akan sangat berkurang,” pungkasnya. (Mhr)