Cerita Virginia Lomboan soal Penerimaan Diri dan Bangkit Lebih Kuat

TERBERITA.COM, Manado – “Bagi saya, menerima diri sendiri dimulai ketika berhenti membandingkan diri kita menggunakan standar orang lain,” kata Virginia Cicilia Lomboan.

Gadis cantik kelahiran 24 Februari 2004 ini berujar, banyak orang sering terlalu keras dan menyayangi diri jika berhasil mencapai sesuatu.

“Belajar memaafkan kesalahan yang sudah lewat, stop menyalahkan diri, dan biarkan diri kita tumbuh tanpa harus merasa tertekan untuk jadi sempurna,” ungkap dia.

Saat ditanya cara agar tidak iri atas pencapaian orang lain di media sosial, gadis berzodiak Pisces ini menekankan, kuncinya adalah sadar kalau medsos sering mengaburkan persepsi tentang kebahagiaan.

“Kita cenderung lupa kalau hidup ada pasang surutnya, sedangkan di dunia digital, orang tidak pernah menunjukkan kegagalan,” ucapnya.

“Sebenarnya rasa iri muncul ketika membandingkan kehidupan kita yang penuh dinamika dengan potongan momen terbaik dari orang lain,” jelasnya.

Gadis yang berprofesi sebagai perawat ini membeberkan, dirinya selalu menjaga hati tetap tenang dengan membatasi apa yang dikonsumsi.

“Fokus pada orang-orang di depan mata dan apa yang sedang dikerjakan. Saya selalu percaya, kebahagiaan bukan tentang siapa lebih dulu sampai atau siapa yang punya lebih banyak,” tegasnya.

Ia mengaku lebih memilih fokus pada pertumbuhan diri sendiri, karena satu-satunya perbandingan adil ialah membandingkan diri yang sekarang dengan yang dulu.

“Melalui cara itu, saya bisa lebih menghargai setiap progres kecil yang berhasil dicapai tanpa perlu merasa terancam oleh pencapaian orang lain,” tutur gadis yang hobi bernyanyi ini.

“Jangan biarkan pendapat orang atau standar kecantikan di luar sana menjadi penentu. Saat kita sibuk memperbaiki kualitas diri dan memberi manfaat, rasa insecure perlahan kalah oleh rasa syukur atas apa yang dimiliki,” kata pemilik akun Instagram @igincicilia ini.

 

Berhasil lalui momen paling krusial

Virginia bercerita, dirinya pernah melewati masa cukup menantang ketika masih di bangku kuliah.

Saat itu, dia merasa sangat asing dengan diri sendiri karena tidak maksimalnya performa akademik.

“Ada perasaan kecewa dan khawatir apabila tidak mampu mengejar ketertinggalan tersebut,” keluhnya.

Akhirnya, setelah mencoba jujur dan melihat lebih dalam, ia menyadari jika penyebab utamanya bukanlah rasa malas, tapi karena ada di lingkar pertemanan yang tidak sejalan.

“Saya terjebak di lingkungan yang tidak positif dan perlahan-lahan mengikis rasa percaya diri serta fokus,” kenangnya.

Bagi dia, berdamai dengan diri sendiri saat itu tidaklah sebatas memaafkan nilai jelek, tapi soal berani mengambil keputusan sulit untuk melepaskan (cut off) pertemanan tidak sehat.

Pada akhirnya ia berhasil melalui momen paling krusial dan bangkit menjadi lebih kuat serta mampu bersyukur atas setiap proses kehidupan.

“Saya tidak bisa terus-menerus menyalahkan diri jika tak berani keluar dari lingkungan tersebut. Begitu melangkah keluar dan mulai selektif memilih teman, semuanya berubah,” sebutnya.

“Mencintai diri sendiri berarti berani meninggalkan hal-hal yang tidak lagi memberi ruang untuk tumbuh. Kita berhak atas kedamaian batin dan lingkungan yang mendukung versi terbaik diri kita sendiri,” pungkasnya. (Mhr)