AMAN Sulut Gelar Pelatihan JMA, Perkuat Kapasitas Jurnalis

TERBERITA.COM, Manado – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Sulawesi Utara (Sulut) menggelar Pelatihan Jurnalis Masyarakat Adat (JMA) pada 11-13 Februari 2026 di Wale AMAN Sulut, Kelurahan Malalayang Satu, Kecamatan Malalayang, Kota Manado.

Agenda ini bertujuan memperkuat kapasitas jurnalis dalam memahami dan menerapkan prinsip jurnalistik secara profesional.

Selama tiga hari pelatihan, peserta menerima berbagai materi seputar media dan jurnalisme rakyat, teknik observasi dan pengumpulan fakta, etika jurnalistik, kaidah penulisan berita, hingga prinsip-prinsip dasar dalam menyampaikan informasi yang akurat dan bertanggung jawab.

Salah satu peserta, Nadia Aluy mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru selama mengikuti kegiatan tersebut.

Menurutnya, pelatihan ini membuka pemahaman lebih luas tentang pentingnya etika dan standar dalam dunia jurnalistik.

“Ketika mengikuti pelatihan ini, saya mendapatkan banyak sekali materi dan pengetahuan. Saya belajar tentang etika, kaidah-kaidah, dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar,” ujar Nadia.

Ia menilai pelatihan ini sangat penting, terutama di tengah kondisi di mana praktik pemberitaan belum sepenuhnya mengedepankan standar jurnalistik yang baik.

Bagi masyarakat adat, kemampuan menulis dan menyampaikan informasi secara benar dinilai sangat krusial.

Lebih lanjut, Nadia menyoroti pemberitaan mengenai masyarakat adat di Sulut masih tergolong minim.

Padahal, menurutnya, banyak isu, persoalan, serta potensi komunitas adat yang layak diangkat ke ruang publik.

Ungkapan senada disampaikan Enjely Koapaha. Ia menuturkan, pelatihan tersebut tidak hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga membentuk cara berpikirnya menjadi lebih kritis dan tajam.

“Selama tiga hari mengikuti pelatihan JMA saya tidak hanya belajar teknik menulis, tetapi mengalami perubahan cara berpikir. Saya kembali memahami prinsip 5W+1H sebagai fondasi menyusun berita secara utuh dan berimbang, pentingnya verifikasi fakta, serta bersikap skeptis terhadap informasi mentah,” jelas Enjely.

Menurutnya, pelatihan tersebut membentuk cara pandangnya sebagai seorang jurnalis yang harus berani menggali kebenaran dan konsisten berdiri di atas etika serta integritas.

Ia menyadari bahwa setiap kata yang ditulis merupakan tanggung jawab, dan setiap berita adalah ruang perjuangan.

Sebagai jurnalis masyarakat adat, lanjut Koapaha, tugas mereka bukan sekadar menulis peristiwa, tetapi juga menjaga identitas, serta menyuarakan hak-hak komunitas yang selama ini kerap terpinggirkan.

“Melalui tulisan dan media, kami berdiri sebagai bagian dari gerakan yang menyuarakan keadilan, memperkuat solidaritas, dan mendesak pengakuan terhadap setiap hak masyarakat adat,” kuncinya.

Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta mampu menjadi jurnalis masyarakat adat yang tidak hanya terampil dalam menulis, tetapi juga menjunjung tinggi etika serta prinsip jurnalistik, sehingga suara dan realitas masyarakat adat dapat tersampaikan secara objektif dan bertanggung jawab.

Ketua Pelaksana Harian Wilayah AMAN Sulawesi Utara, Kharisma Kurama menegaskan, pelatihan ini merupakan bagian dari strategi gerakan untuk memperkuat posisi Masyarakat Adat melalui media.

Menurutnya, selama ini Masyarakat Adat lebih sering menjadi objek pemberitaan, bukan subjek yang menceritakan realitasnya sendiri.

“Pelatihan JMA merupakan upaya membangun kekuatan dari dalam komunitas. Masyarakat adat harus mampu mendokumentasikan, menulis, dan menyuarakan sendiri realitas, pengetahuan, serta persoalan yang dihadapi,” sebut Kharisma.

Bagi Kharisma, media adalah alat perjuangan, dan JMA adalah bagian penting dari perjuangan mempertahankan wilayah, identitas, dan hak-hak masyarakat adat.

Ia berharap, para peserta tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi terus aktif menulis, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan informasi dari komunitasnya masing-masing.

“Kami berharap lahir jurnalis-jurnalis masyarakat adat yang konsisten, berintegritas, dan berpihak pada kebenaran, sehingga suara masyarakat adat di Sulut makin kuat serta tidak lagi terpinggirkan,” tutupnya.

Diketahui, tampil sebagai fasilitator, Harry Surjadi dan Agung Sedayu. Para peserta merupakan perwakilan Komunitas Masyarakat Adat di Sulawesi Utara.