Aksi Nyata Mahasiswa IKM Unima: Tanam Mangrove dan Survei Kesehatan Masyarakat Pesisir Minut
TERBERITA.COM, Minahasa – Program studi (Prodi) Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Universitas Negeri Manado (Unima) menyelenggarakan survei kesehatan masyarakat serta aksi tanam mangrove di Desa Wori dan Desa Tiwoho, Kabupaten Minahasa Utara (Minut)
Kegiatan berbasis Case Based Project ini melibatkan 99 mahasiswa angkatan 2023 pada mata kuliah Kesehatan Lingkungan Pulau-Pulau.
Tim lapangan dipimpin tim dosen kesehatan lingkungan Richard A. Palilingan, S.KM., M.Erg., AIFO, Fuad H. Sudasman, S.KM., M.K.M, Bintang S. Panjaitan, S.KM., M.P.H. dan Kevin Sumanti, S.KM., M.K.M.
Kegiatan mendapat dukungan dari Koordinator Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Dr. Jonesius Eden Manoppo, S.K.M., M.Kes., beserta aparat pemerintah desa dari kedua tempat.
Menurut Richard, kegiatan ini dirancang agar mahasiswa memiliki pengalaman langsung di lapangan ketika melakukan survei dan berinteraksi dengan masyarakat.
“Melalui kegiatan ini bisa memperoleh data tentang status kesehatan masyarakat pesisir yang dapat dijadikan pertimbangan,” kata Richard, Sabtu (16/11/2025).

Rangkaian kegiatan dimulai dari pembukaan di kantor Hukum Tua pada masing-masing desa kemudian dilanjutkan penanaman 110 bibit mangrove.
Setelah itu baik tim dosen dan mahasiswa menyebar ke beberapa jaga atau lingkungan untuk mewawancarai masyarakat mengenai data kesehatan masyarakat seperti sanitasi rumah tangga, pengelolaan sampah, serta akses dan kualitas air bersih.
“Belajar di kelas itu fondasi, tapi bertemu warga menjadikan ilmu berguna; temuan hari ini akan diolah menjadi rekomendasi prioritas perbaikan sanitasi, edukasi PHBS, serta tata kelola sampah yang lebih tertata,” ujar Fuad.
Koordinasi lapangan di Desa Wori dipimpin Jehan Dangio, Indri Purba, Chofifa Mamonto, Felicia Mamengko, Jelita Ziliwu, serta Fransiska Assa.
Jehan menyampaikan, masyarakat Wori sangat terbuka menjelaskan kondisi air dan jamban di rumah mereka.
“Kami belajar mendengar, bukan sekadar bertanya, dan rasanya seperti ikut menjaga kampung sendiri dari sampah dan kerusakan lingkungan di sekitar pesisir,” imbuh Jehan.
Di Desa Tiwoho dikoordinasikan oleh Sisilia Manyakori, Jesica Warouw, serta Faraswati Malone.
Sisilia mengungkapkan, ia merasakan energi positif di lokasi penanaman, dan semua orang mau berpartisipasi dalam survei.
“Tanam mangrove itu menular, kami sadar bahwa edukasi PHBS harus berkelanjutan, bukan cuma sesaat,” ucapnya.

“Kehadiran mahasiswa diperlukan tidak hanya sesaat dan warga berharap ada program berkelanjutan ke depan. Kami sangat diterima dan serasa punya keluarga baru di Tiwoho,” tutur Jesica.
Apresiasi datang dari Korprodi IKM, Dr. Jonesius Eden Manoppo, yang menekankan manfaat ganda bagi masyarakat serta mahasiswa.
“Program ini baik dan nyata manfaatnya bagi warga pesisir, mulai dari perlindungan pantai hingga perbaikan perilaku hidup bersih, serta memperkuat capaian pembelajaran mata kuliah mahasiswa karena mereka menguasai teknik survei, komunikasi risiko, dan analisis kebijakan,” ujarnya.
“Model Pembelajaran berbasis Case based Project perlu berlanjut secara berkala di Program Studi sehingga desa desa mitra mendapatkan pendampingan yang berkesinambungan.”
Manoppo juga menyampaikan penghargaan kepada pemerintah desa.
“Terima kasih atas apresiasi serta sambutan yang sangat baik dari aparat pemerintah desa Wori dan desa Tiwoho. Kolaborasi seperti ini membuat implementasi hasil riset jauh lebih cepat.”
Aparat pemerintah desa dari Wori dan Tiwoho menyambut baik kerja kolaboratif ini serta menegaskan pentingnya tindak lanjut kebijakan.
“Data dari mahasiswa akan kami gunakan untuk rencana aksi desa, mulai dari titik prioritas perbaikan sanitasi, penguatan bank sampah, serta edukasi rumah tangga, sementara penanaman mangrove hari ini memperkuat perlindungan pantai kami,” sebur perwakilan pemerintah desa.
Selain memotret persoalan sanitasi serta air bersih, kegiatan ini menyoroti potensi ekonomi hijau di pesisir.
Richard menjelaskan ekosistem mangrove berfungsi sebagai benteng alami yang mampu meredam abrasi serta gelombang dan sekaligus menyerap karbon, lalu membuka peluang ekowisata edukasi dan pengembangan produk turunan mangrove.
Serupa, Fuad menilai, validnya data lapangan memudahkan sinkronisasi program kampus dengan desa.
Ke depan, tim akan menyusun ringkasan temuan dan rekomendasi praktis berbasis bukti untuk diserahkan kepada pemerintah desa serta pemerintah kabupaten ujar Bintang Panjaitan.
Rekomendasi meliputi kampanye PHBS pada titik rawan, perbaikan fasilitas sanitasi prioritas, penguatan bank sampah, serta pendampingan inisiatif ekowisata edukasi mangrove.
