Tuai Sorotan Tajam, JPBSI Unima Diduga Abai Terhadap Praktik Penipuan Pegawai AR
TERBERITA.COM, Minahasa – Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (JPBSI) FBS Unima kini menuai sorotan tajam.
Pasalnya, salah satu pegawai berinisial AR, belakangan ini diketahui melakukan penipuan dengan kedok pembayaran UKT.
Aksi AR diketahui sudah terjadi beberapa kali tanpa diketahui pihak jurusan. Hal ini menandakan lemahnya kontrol ketua jurusan terhadap kinerja pegawainya.
Bahkan jurusan seolah abai dengan aksi AR yang belakangan ini sangat meresahkan banyak mahasiswa.
Tidak hanya penipuan, AR diduga melakukan transaksi jual beli nilai dan pungutan liar bahkan jauh sebelum kasus penipuan terungkap.
Salah satu korban yang enggan disebutkan namanya mengaku mengalami kerugian sebesar 5 juta Rupiah akibat ditipu AR.
“Saya sudah dua kali membayar UKT melalui perantaraan dia pada semester III dan IV,” ungkap korban.
“Saat semester V ini saya sedikit heran karena selalu ditanya AR kapan akan membayar UKT,” imbuhnya.
Lebih lanjut korban mengungkapkan meski sudah melakukan pembayaran, AR tak kunjung memberikan tanda bukti berupa slip pembayaran kepadanya.
“Belakangan kami mengetahui bahwa uang tersebut digelapkan untuk kepentingan pribadinya,” tukas korban.
Respon pihak JPBSI
Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Drs. Oldie Meruntu, M.Pd., saat dikonfirmasi menyebutkan, AR kini tengah menjalani proses pendisiplinan dari pihak Unima.
“Kemarin sudah ada usulan pemberhentian bagi yang bersangkutan, dan sementara berproses,” katanya saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (29/8/2025).
Oldie mengaku sebelumnya ia sudah pernah mendengar kabar terkait proses jual beli nilai dan pungutan liar yang dilakukan AR.
“Tidak adanya laporan dari mahasiswa membuat saya mengalami keterbatasan dalam melakukan penindakan, karena semua harus berdasarkan bukti,” imbuhnya.
Terkait penipuan membayar UKT, Oldie membeberkan pihaknya baru mengetahui hal tersebut belum lama ini setelah banyak mahasiswa memberi laporan.
Dia menegaskan saat ini telah memegang kendali akun penginputan nilai di JPBSI dan tidak diberikan akses kepada orang lain.
“Sekarang semua nilai melalui saya, tidak ada lagi pihak lain yang menginput nilai. Ini saya lakukan sebagai tindak pencegahan jika ada orang lain yang ingin berbuat curang,” beber Oldie.
Ia mengaku masalah ini menjadi kesempatan untuk JPBSI Unima mengevaluasi dan memperbaiki diri agar menjadi lebih baik ke depan. (Mhr)
