Ikuti IVLP, Ketua Umum LAROMA Bawa Suara Penghayat Kepercayaan ke AS

TERBERITA.COM, Minahasa – Ketua umum Lalang Rondor Malesung (LAROMA), Iswan Sual, mengikuti International Visitor Leadership Program, (IVLP) yang bertemakan Defending Religious Freedom atau Membela Kebebasan Beragama.

IVLP merupakan program pertukaran profesional unggulan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) yang telah berlangsung sejak 1940.

Peserta dipilih melalui proses nominasi oleh Kedutaan Besar (Kedubes) AS di masing-masing negara, dan tidak melalui pendaftaran umum.

Para peserta dipertemukan dengan mitra dan institusi di AS melalui kunjungan, diskusi, dialog, serta pertukaran pengalaman.

Selain Iswan, Kedubes AS juga mengundang empat tokoh Indonesia lainnya dalam program tersebut.

Mereka adalah Arman Chandra, Chairman Regional Management Board Indonesian Buddhist Representative (DPD Walubi) Kota Medan; Hasbulloh, Chairman Religious Harmony Forum (FKUB); Siti Kholisoh, Direktur Pelaksana Yayasan Wahid; serta Andar Nubowo, Direktur Eksekutif Institut MAARIF.

Komposisi tersebut memperlihatkan keberagaman perspektif mulai dari Penghayat Kepercayaan, komunitas Buddhis, Forum Kerukunan Umat Beragama, hingga organisasi yang bergerak pada isu pluralisme dan pemikiran Islam.

Iswan menjelaskan, program ini akan mempertemukan peserta dengan berbagai pengalaman dan perspektif mengenai kebebasan beragama.

Bagi Iswan Sual, pengalaman LAROMA dapat menjadi salah satu perspektif Indonesia dalam dialog tersebut.

Ia mengungkapkan, LAROMA adalah salah satu komunitas yang terus mendorong pelestarian kepercayaan Malesung dan nilai spiritual lokal Minahasa.

“Saya membawa pengalaman sebuah komunitas kepercayaan lokal yang berusaha mempertahankan warisan leluhur sekaligus menempatkan diri sebagai bagian utuh dari kehidupan bangsa Indonesia,” katanya, Sabtu (19/9/2026).

“Dengan demikian Malesung tidak hanya hadir sebagai cerita masa lalu, namun pengalaman hidup sebuah komunitas yang sedang berusaha memastikan warisan spiritual dan kebudayaannya tetap memiliki tempat dalam Indonesia modern,” tuturnya.

Menurutnya, ketika membahas soal pembelaan kebebasan beragama, LAROMA membawa pesan sederhana namun mendasar.

“Kebebasan beragama bukan hanya hak memilih keyakinan, tetapi juga hak menjadi diri sendiri, menjaga warisan leluhur, dan hidup bermartabat sebagai manusia dan warga negara,” tegas Iswan.

“Ini bukan sekadar perjalanan individu, namun perjalanan sebuah komunitas yang terus berusaha menjaga warisan spiritual Malesung sekaligus memperjuangkan hak untuk hidup setara sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Dari Tondei suara Malesung akan ikut masuk ke ruang dialog internasional,” tandasnya.

 

LAROMA dan jalan lurus Malesung

Lalang Rondor Malesung, yang disingkat LAROMA, merupakan organisasi penghayat kepercayaan yang berakar pada nilai-nilai spiritual dan kearifan leluhur Malesung di Minahasa, Sulawesi Utara.

Secara harfiah, Lalang Rondor dipahami sebagai “jalan lurus” atau “jalan kebenaran”, sedangkan Malesung merupakan sebutan historis yang berkaitan dengan wilayah dan masyarakat Minahasa.

Dengan demikian, Lalang Rondor Malesung dapat dimaknai sebagai jalan atau tuntunan kebenaran yang diwariskan secara turun-temurun.

LAROMA secara resmi berdiri pada 17 Februari 2016 di Desa Tondei Dua, Kecamatan Motoling Barat, Kabupaten Minahasa Selatan. Sejumlah sumber akademik mencatat Iswan Sual, Frits Sual, dan Yanli Sengkey sebagai pendiri organisasi tersebut.

Perjalanan LAROMA berawal dari kebutuhan komunitas untuk terus menjalankan ajaran yang diwariskan leluhur.

Komunitas penghayat Malesung dari kawasan Tondei, Pontak, Pakuweru, Raanan Baru, Motoling, dan sekitarnya secara berkala berkumpul untuk menjalankan ritual dan pertemuan spiritual.

Perjuangan LAROMA tidak hanya berlangsung dalam ruang ritual, tetapi juga bergerak ke ruang pendidikan, kebudayaan, dialog publik, dan kehidupan bernegara.

Salah satu tradisi yang dikenal dalam komunitas LAROMA adalah ritual bulan purnama yang disebut Maso’ Sico’o wo Towaku’ atau Meru Nubat.

Penelitian mengenai LAROMA mencatat bahwa ritual dan ajaran tersebut menjadi bagian dari upaya komunitas mempertahankan kesinambungan tradisi Malesung.

Dalam perkembangannya, LAROMA menjadi salah satu organisasi yang berperan dalam mempertahankan keberadaan agama atau kepercayaan Malesung (asli Minahasa) sekaligus memperjuangkan hak-hak penghayat kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. (Mhr)