Krisis Identitas dan Pelestarian Budaya Indonesia, Ceria Amelia: Jaga Jati Diri Bangsa
TERBERITA.COM, Kalteng – Bangsa Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan identitas dan budaya yang telah diwariskan jauh sebelum Indonesia merdeka.
Arus digitalisasi yang semakin masif dari waktu ke waktu dinilai turut memperparah krisis identitas di tengah generasi muda.
Kondisi ini menyebabkan sebagian anak muda mulai menjauh dari jati dirinya sebagai bangsa Indonesia.
“Menurut saya, krisis identitas yang terjadi saat ini bukan semata-mata karena budaya Indonesia mulai hilang, melainkan karena generasi muda semakin jauh dari akar budayanya sendiri,” kata Ceria Amelia.
Ia menjelaskan, pada era digital masyarakat lebih mudah mengenal budaya asing dibandingkan budaya daerahnya sendiri.
“Apabila terus dibiarkan, Indonesia berisiko kehilangan identitas bangsa secara perlahan,” ungkapnya.
Gadis yang akrab disapa Cece itu mengatakan, Generasi Z harus menyadari bahwa melestarikan budaya bukan hanya tugas pemerintah atau komunitas tertentu, melainkan tanggung jawab bersama.
“Budaya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya tampil dalam perayaan atau kegiatan seremonial,” ujar peraih gelar Duta Bahasa Kalimantan Tengah 2026 tersebut.
Menurutnya, pelestarian budaya dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, melestarikan bahasa daerah, mengenakan wastra Nusantara, serta memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan budaya lokal secara kreatif dan relevan.
Meski demikian, pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada simbol semata. Generasi muda juga perlu memahami makna, nilai, dan filosofi yang terkandung di dalam budaya agar tidak sekadar menjadi tren sesaat.
“Sebagai Duta Bahasa Kalimantan Tengah, saya percaya modernisasi dan budaya dapat berjalan berdampingan selama generasi muda tetap memiliki kesadaran untuk menjaga jati diri bangsa,” tegasnya.
Relevansi Budaya di Masa Kini
Ketika ditanya mengenai relevansi budaya Indonesia pada masa kini, gadis kelahiran Muara Teweh, 27 Agustus 2006, itu menilai nilai gotong royong, toleransi, sopan santun, serta rasa hormat terhadap sesama masih sangat relevan diterapkan.
Ia menekankan bahwa nilai-nilai tersebut penting dipertahankan, terutama di tengah perkembangan teknologi yang membuat masyarakat semakin individual dan mudah terpecah akibat perbedaan pandangan.
“Menghargai keberagaman sangat penting untuk dipertahankan. Negara kita memiliki latar belakang budaya, bahasa, dan adat istiadat yang berbeda-beda,” paparnya.
Cece yang memiliki hobi menulis itu juga menyayangkan apabila generasi muda tidak memiliki sikap toleransi dan saling menghargai keberagaman yang seharusnya menjadi kekuatan, bukan pemicu perpecahan.
Menurutnya, nilai-nilai budaya tidak sepantasnya dianggap kuno, melainkan harus menjadi fondasi kuat dalam menghadapi tantangan zaman modern.
Pelestarian budaya juga tidak akan berhasil apabila hanya dijadikan slogan atau sebatas kegiatan seremonial. Pemerintah dan masyarakat perlu berkomitmen menjadikan budaya sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Pemilik akun Instagram @ceriaameliaa tersebut menilai pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang lebih konkret, seperti memperkuat pendidikan budaya sejak usia dini, mendukung ruang kreatif bagi generasi muda, serta memberikan perhatian lebih besar terhadap pelestarian bahasa daerah yang mulai terancam punah.
Selain itu, pemerintah juga perlu memanfaatkan media digital sebagai sarana edukasi budaya agar lebih dekat dengan generasi muda.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga budaya. Kesadaran melestarikan budaya harus dimulai dari lingkungan keluarga dan sekitar.
“Masyarakat tidak bisa terus menyalahkan perkembangan zaman apabila tidak memiliki kemauan untuk menjaga budaya sendiri,” tuturnya.
Ia berpendapat, menggunakan produk lokal, melestarikan bahasa daerah, serta mendukung karya anak bangsa merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar bagi keberlangsungan budaya Indonesia.
“Sebagai Duta Bahasa Kalimantan Tengah, saya berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus globalisasi, tetapi juga menjadi pelopor dalam menjaga identitas bangsa serta memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia,” tandasnya.
Tentang Narasumber
Ceria Amelia merupakan peraih gelar Duta Bahasa Kalimantan Tengah 2026.
Ia aktif dalam kegiatan literasi, kebahasaan, dan pelestarian budaya. Selain itu, dirinya juga terlibat dalam berbagai kegiatan edukasi bahasa Indonesia, bahasa daerah, serta penguatan karakter generasi muda.
