Waspadai Catcalling, Angela: Bisa Akibatkan Trauma
TERBERITA.COM, Manado – Catcalling merupakan tindakan pelecehan verbal dan nonverbal kepada perempuan baik melalui siulan, godaan, gestur tubuh, panggilan atau ungkapan yang melanggar moral.
Meski tergolong pelecehan, banyak orang menganggapnya sebagai candaan bahkan hanya tindakan sepele.
Hal itu serupa dikatakan Siesilia Beatrix Angela. Ia menyebutkan, sebagian orang beranggapan hal itu bukan masalah besar.
“Padahal sebenarnya membuat orang lain tidak nyaman dan termasuk pelecehan secara halus,” ujarnya.
“Cara berpakaian sering disalahkan karena menjadi pemicu, tetapi yang salah itu pola pikir dari pelaku. Banyak perempuan berpakaian tertutup juga tetap diganggu,” ucapnya.
Gadis kelahiran Manado, 23 Agustus 2002 ini menilai, cara atau gaya berpakaian bukanlah faktor utama penyebab catcalling.
“Perempuan punya hak berpakaian dan berekspresi sesuai selera masing-masing, namun penting disadari harus menyesuaikan tempat dan situasi,” jelasnya.
Angela mengungkapkan, jika seseorang mengalami catcalling di suatu tempat agar segera menghindar atau meminta tolong jika pelaku berani bertindak lebih jauh.
“Kalau aksinya lebih parah seperti melakukan pelecehan fisik, sebaiknya langsung direkam dan laporkan. Karena perilaku itu adalah unsur tindak pidana,” tukasnya.
Pemilik akun Instagram @sslyangela_ ini menuturkan, catcalling perlu diwaspadai dan tidak boleh dianggap enteng.
“Itu pelecehan seksual yang bisa mengakibatkan korban trauma, kehilangan rasa aman dan parno jika jalan sendiri,” sebutnya.
“Apabila mengalami hal demikian sebaiknya jangan dipendam, cari ruang aman dan ceritakan pada orang yang kita percaya agar bisa merasa tenang, aman, serta idak menyalahkan diri sendiri,” ucap gadis yang hobi berolahraga ini.
“Jika ada teman kita yang jadi korban, kita harus membantu menenangkan dan menguatkan, bukan menyalahkannya,” pungkasnya. (Mhr)
