Dosen Geografi Unima Bahas Inovasi Ramah Lingkungan untuk Pembangunan Berkelanjutan

TERBERITA.COM, Minahasa – Dosen muda Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Manado (Unima), Fellix Rimba, S.Pd., M.Pd., menjadi narasumber pada kegiatan Peningkatan Kompetensi Pelayanan Publik yang digelar Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Manado.

Bertemakan Transformasi Pelayanan Publik Digital 2026: Strategi Komunikasi Cerdas di Media Sosial dan Manajemen Komplain Prima Berbasis BerAKHLAK ini menghadirkan Felix sebagai narasumber, dan berlangsung di Courtyard by Marriott Manado, Kairagi Dua, Mapanget.

Kegiatan dibuka langsung Kepala BBPOM di Manado, Hermanto, S.Si., Apt., MPPM, dan bertujuan menginternalisasi Core Values ASN BerAKHLAK (Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif) dalam pelayanan publik sehari-hari.

Pada kesempatan itu, Felix membawakan materi Optimalisasi Inovasi Ramah Lingkungan untuk Pembangunan Berkelanjutan.

Di awal paparan, Fellix mengajak peserta memahami eco-anxiety, yaitu kecemasan yang diakibatkan kekhawatiran terhadap krisis lingkungan seperti perubahan iklim, tumpukan sampah, dan kerusakan ekosistem.

Menurutnya, perasaan ini semakin nyata di era digital ketika arus informasi tentang bencana dan kerusakan lingkungan beredar cepat di media sosial.

Ia menekankan, kecemasan tersebut tidak perlu berujung pada rasa putus asa. Eco-anxiety, menurutnya, dapat diubah menjadi energi positif bila diarahkan pada aksi nyata dimulai dari lingkungan terdekat.

Dirinya mengaitkan dengan kompetensi bermedia sosial, yakni aparatur diharapkan menyebarkan informasi lingkungan yang edukatif dan solutif, bukan yang memicu kepanikan.

“Tiga usulan inovasi sederhana yang relevan dan mudah diterapkan di Sulawesi Utara yakni biopori, lubang resapan yang bisa diterapkan di lingkungan kantor, permukiman, dan ruang terbuka guna meresapkan air hujan dan mengurangi genangan,” jelasnya, Senin (31/8/2029).

Menurut dia, ini dinilai penting bagi wilayah perkotaan seperti Manado yang kerap menghadapi banjir saat curah hujan tinggi.

“Inovasi kedua adalah budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly) sebagai solusi pengolahan sampah organik, khususnya sisa makanan dari rumah tangga, pasar, dan rumah makan,” ucapnya.

Larva ini mampu mengurai sampah organik dengan cepat, dan hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan, serta pupuk organik dari kasgotnya, sehingga bernilai ekonomi.

Sedangkan inovasi ketiga adalah penguatan bank sampah sebagai gerakan pemberdayaan masyarakat.

“Melalui pemilahan dan penabungan sampah anorganik, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus bisa mengurangi sampah. Instansi pemerintah perlu menjadi contoh dengan membentuk bank sampah di lingkungan kantor,” paparnya.

Menurut Fellix, ketiga inovasi tersebut saling melengkapi. Biopori dan maggot BSF menangani sampah organik, sedangkan bank sampah mengelola sampah anorganik, sehingga terbentuk sistem pengelolaan sampah yang lebih menyeluruh dari hulu ke hilir.

Pendekatan ini dinilai sejalan dengan tema kegiatan, yaitu pemberdayaan masyarakat dan pelayanan publik yang berkelanjutan.

Selain Fellix, kegiatan ini juga menghadirkan Davied Vierronica dari Daya Inspiring People sebagai narasumber yang membahas Complain Handling Service.

Dengan metode penyampaian materi, diskusi interaktif, tanya jawab, serta studi kasus dan simulasi, para aparatur BBPOM di Manado diharapkan mampu memberikan pelayanan publik yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

Kehadiran Felix menunjukkan bahwa akademisi muda dapat berkontribusi bagi instansi pemerintah melalui gagasan inovatif yang relevan dengan tantangan zaman, termasuk isu lingkungan di daerah.