Hustle and Mountain Culture Menurut Andrea Runturambi
TERBERITA.COM, Manado – Hustle Culture merupakan fenomena dimana banyak anak muda terjebak pada pekerjaan super sibuk hingga mengakibatkan mudah mengalami stres.
Hal ini dikarenakan tingginya tekanan yang dialami seseorang di lingkungan pekerjaan dan deadline pekerjaan terus menghantui serta rasa takut akan tertinggal dengan zaman.
“Bagi saya, Hustle Culture seakan mengikat manusia dengan pekerjaan hingga tidak bisa bergerak bebas akibat kesibukan,” kata Andrea Paulina Runturambi.
Menurutnya hal tersebut berbanding terbalik dengan Mountain Culture yang lebih bersifat bebas dan tidak terikat.
Dia menjelaskan, penting membahas keduanya agar semua orang tahu dan mengerti perbedaan antara kultur kota dan alam.
“Lingkungan kota serba kompetitif, manusia saling bersaing, sedangkan di gunung sangat berbeda. Tidak peduli pekerjaan atau penghasilan, setiap orang berjalan di jalur yang sama,” tukasnya.
Bagi Dea, hal paling berkesan ialah orang-orang bisa menjalin keakraban walau tidak saling kenal, saling menyapa saat berpapasan dan bahkan memberi makanan sebagai bentuk support.
Ia mengakui, semenjak mendaki, pikirannya jadi lebih terbuka dan sadar kalau dunia sangat luas serta banyak spot bagus yang perlu dikunjungi.
“Bagi saya, pelajaran penting yang diperoleh dari mendaki adalah, kadang kita perlu melambat agar bisa melangkah lebih jauh,” tegasnya.
“Pesan untuk teman-teman pendaki jangan tinggalkan sampah, hormati adat setempat, jangan sampai validasi di sosmed merusak alam yang menyembuhkan kita,” sebut Dea.
Dampak bagi kesehatan dan mental
Perempuan kelahiran Tawaang, 29 Maret 2001 ini menuturkan, Hustle Culture sangat berpengaruh pada kesehatan dan mental seseorang dalam jangka panjang.
Dia berpandangan, terkadang muncul rasa bersalah jika tidak bekerja dan hanya berdiam diri sampai akhirnya lupa waktu istirahat karena melakukan pekerjaan secara berlebihan.
“Ujung-ujungnya akan sangat kelelahan, kita seperti terlilit pekerjaan tanpa sadar, mulai overthinking dan takut tidak tepat waktu. Itu berdampak pada kualitas pekerjaan hingga berakibat stres bahkan depresi,” paparnya.
Pemilik akun Instagram @dheaandreaaa ini mengaku, sebelumnya dia pernah mengalami Hustle Culture yang parah.
“Saya pernah mengerjakan empat project dari pekerjaan yang berbeda. Itu terjadi karena karena memang terbiasa multitasking. Tapi akhirnya sadar kalau tubuh sejatinya butuh istirahat dan tidak memaksakan diri,” sebut Dea.
“Sesibuk apa pun, sempatkan waktu untuk diri sendiri. Buatlah jadwal istirahat atau sekadar jalan-jalan keluar menghirup udara segar,” ujar perempuan yang hobi membaca ini.
“Kerja keras merupakan kewajiban, tapi kita perlu tahu kapan harus mengerem dan terkoneksi dengan alam sebagai bentuk mencintai diri sendiri,” imbuhnya.
Dea menilai, healing tidak selalu tentang mendaki gunung bersama teman, karena baginya me time dan berolahraga sudah termasuk healing.
“Paling utama sisipkan waktu saat teduh, entah pagi atau sebelum tidur, dan jangan lupa mengucap syukur kepada Tuhan,” tutupnya. (Mhr)
